SabdoPandito Ratu - detikNews. Kamis, 02 Des 2010 08:33 WIB. 0 komentar. BAGIKAN URL telah disalin. Jakarta - Yogyakarta amuk. Pasca Gunung Merapi meletus, kini terjadi ledakan susulan berupa Vay Tiền Nhanh Ggads. Mohamad SobaryEsais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan. Email dandanggula Jawa—maksudnya Jawa Ortodoks—berpegang pada etika politik yang dikenal sebagai sabda pandita ratu’. Ungkapan ini menjadi sejenis pedoman tingkah laku yang menekankan bahwa segenap kata dan tindakan ratu’ tersebut harus bisa dijadikan suri teladan seluruh rakyatnya seperti begitu jelas di dalam makna sabda’, artinya kata, ucapan, pernyataan atau janji. Pandita’ itu simbolisasi dari sikap dan sifat-sifat jujur, memenuhi janji dan tak pernah ingkar, tak pernah bohong. Ratu’, yaitu raja, lambang dari kekuasaan yang besar, sehingga sekali sabda’, sekali janji, sekali berkata, ucapannya didengar seluruh rakyat dan menjadi harapan mereka.Sabda pandita ratu’ itu ibarat tinta hitam di atas kertas putih, yang membekas begitu abadi’. Mungkin ibarat lainnya, sabda pandita ratu’ itu seperti stempel sekali dicap jadilah buat selamanya’. Kalau setiap janji’ untuk membikin rakyat makmur dipenuhi, maka rakyat pun makmur. Jadi, sekali sabda’ kumakmurkan rakyatku, maka mulai besok’ sore, rakyat pun bukan sabda-sabdaan, bukan sabda sembarang sabda melainkan sabda pandita ratu’. Dalam ungkapan lain dijelaskan bahwa seutama-utamanya raja ialah raja yang murah hati dan gemar memberi derma, hadiah, sedekah dan sejenisnya sehingga rakyat miskin yang belum terjangkau kebijakan resmi negara bisa dijangkau dengan kebijakan alternatif, yaitu wujud kemurahan hati sudah seutama-utamanya raja? Belum. Masih satu lagi, yang mirip ungkapan yang sudah disebut di atas raja itu gemar memenuhi janji. Kalau raja berjanji mau memberantas korupsi -ini dalam konteks raja’ modern- maka korupsi pun diberantas. Raja tak pernah lupa, atau pura-pura lupa. Dan jelas tak boleh sebaliknya di masa pemerintahannya justru menjadi zaman yang paling raja berjanji memberantas korupsi tetapi pemerintahannya malah menandai puncaknya puncak korupsi, berarti raja tidak amanah. Ini raja mencla-mencle esuk dele sore tempe yang rendah budinya. Kalau raja berjanji memberantas korupsi tetapi aparat penegak hukum yang secara khusus menangani korupsi dengan sepenuh hati dipersulit dan diperkarakan, ini bukan cerminan tindakan pandita, bukan pula gambaran tingkah laku raja yang layak disembah dan raja seperti ini memerintah lama, apakah lamanya masa kekuasaan memiliki relevansi dengan cita-cita kenegaraan kita? Lamanya masa pemerintahan seorang raja tak selalu ada hubungannya dengan tingkat kesejahteraan rakyat. Kekuasaan tak selalu dioperasikan buat menata urusan kesejahteraan rakyat. Banyak raja yang berkuasa sekedar untuk sekedar merupakan tindak lanjut dari kemenangan politik dalam suksesi antar penguasa, antarraja. Banyak kalangan berpendapat bahwa perjuangan politik itu sekadar untuk meraih kekuasaan. Banyak orang lupa, kekuasaan itu hanya tujuan antara. Tujuan asasi sesudah orang berkuasa? Menjadikan kekuasaan itu sebagai basis hukum dan politik resmi yang sah untuk mengatur hidup rakyat makmur. Bikin mereka tertawa dan berbahagia. Ini tujuan asasi perjuangan politik, dan bukan sekedar meraih kekuasaan untuk kekuasaan itu sendiri. Kita tak bisa menerima sikap salah paham bahwa perjuangan politik itu untuk meraih kekuasaan. Ada hal lain lagi yang harus dilakukan dengan segenap susah payah sesudah kekuasaan di masa sesudah reformasi yang mengakhiri kekuasaan otoriter yang begitu panjang dan menakutkan dulu itu, muncul cita-cita seorang tokoh—mungkin namanya ambisi pribadi—agar ia bisa menjadi presiden. Tak peduli hanya dalam waktu pendek, bahkan andaikata ibaratnya hanya sehari pun tak ada masalah asal ia pernah menjadi ini terdengar lagi cita-cita -lebih tepat ambisi pribadi- seperti itu. Kabarnya hal itu muncul dari ucapan orang berkedudukan tinggi pula, setidaknya sama tinggi dengan kedudukan orang yang pertama kali mendambakan jabatan presiden biarpun hanya sehari seperti disebut di negeri merdeka yang demokratis ini orang bebas mau apa saja. Tapi apakah ukuran keagungan sebuah tindakan hanya semata karena boleh, tak dilarang dan ada kebebasan hukum maupun politik? Apakah ukuran-ukuran itu sudah segalanya bagi yang bersangkutan, yaitu bagi dua tokoh yang sudah berkuasa dan jaya? Bagaimana pertimbangan etis, dan ajaran agama yang tak membolehkan keserakahan merajalela?Bagaimana pula ajaran menyukuri apa yang sudah ada, dan cukuplah apa yang sudah ada? Bukankah pemimpin yang bisa bersyukur berarti telah mengajari rakyatnya tanpa kata-kata, tanpa khotbah tapi nyata, lebih nyata, karena menggunakan tindakan mulia?Lagi pula patut dicatat bahwa ambisi pribadi seperti itu mengandung watak nista. Cita-citanya jelas sangat pribadi. Di sana tak tampak semangat menata kehidupan rakyat dengan baik, untuk membuat mereka makmur dan bahagia. Jelas bagi kita, yang ada hanya ambisi. Mungkin tingkatnya sudah sedemikian ambisius, Tak peduli hanya sehari, yang penting jadi dari sudut kehidupan politik kita yang sedang tumbuh dan ibarat tanaman akarnya belum kuat, kok bisa lahir ambisi dari mereka yang sudah punya kedudukan untuk meraih kedudukan yang lebih dan lebih lagi? Kok bisa?Mungkin jawabnya bisa saja. Mungkin alasannya mengapa tidak? Kita tak bisa memahami dengan baik ambisi seperti ini selain menganggapnya sebuah keserakahan. Ambisi masih boleh dan masih bisa diterima, tetapi keserakahan tidak. Sebaiknya, biarpun di dalam politik, kita tak boleh membiarkan keserakahan merajalela di sekitar kawan kita ini seperti orang kebelet, yang tak lagi mampu menahan diri dari hasrat menjadi presiden. Sikap kebelet itu hanya bisa disamai dan dijelaskan dengan menggunakan ungkapan orang ngidam’. Perempuan hamil pun -yang aneh-aneh ngidamnya- masih mudah dipenuhi. Belum pernah ada orang hamil yang ngidam ingin jadi presiden. Tapi di sini, yang ngidam itu orang laki-laki. Dua tokoh sama-sama pernah ngidam ingin jadi fenomena menarik kelihatannya. Ngidam boleh tapi jangan melompati batas pagar orang. Ngidam boleh tapi tak merugikan negara. Dan bagaimana dengan gagasan sabda pandita ratu’ itu? Mengapa tak pernah terdengar suatu cita-cita dari para tokoh untuk mati-matian berjuang menegakkan keadilan dengan semangat mewujudkan gagasan sabda pandita ratu’ tersebut?Di sini tak dikenal ungkapan mencla-mencle, esok dele sore tempe’. Mungkin ini tanda sikap orang murahan. Biasanya gampang dan cepat berjanji tapi tak pernah mampu untuk memenuhinya. Di dunia politik hal ini terjadi tiap saat, seolah memang menandai bahwa politik memang yang memiliki sifat seperti ini jelas gambaran sifat murahan tadi. Dalam gagasan kekuasaan Jawa, sumber kekuasaan bukan rakyat, melainkan Tuhan. Kekuasaan juga dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Maka muncullah pepatah; raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah. Ini semua terserah bagaimana Tuhan mengaturnya.poe Oleh Bambang Udoyono, penulis buku Kali ini kita kembali membahas peninggalan budaya nenek moyang yang berupa peribahasa, pepatah, kata mutiara, atau apalah namanya. Kita akan membahas local wisdom dari Jawa. Seperti lazimnya kata mutiara, atau bahkan ceritapun, tidak jelas siapa penulisnya pertama kali. Kita hanya bisa memperkirakan jaman asalnya dari ragam bahasa Jawa modern. Jadi kira kira kalimat ini berasal dari jaman antara abad keenam belas sampai abad keduapuluh. Prinsip ini pastilah hasil pemikiran nenek moyang kita berdasarkan perjalanan panjang yang sudah dialami di sepanjang sejarah. Inilah salah satu bukti kemajuan nenek moyang kita. Kemajuan dalam pemikiran soal filosofi kehidupan. Ini adalah semacam guidelines untuk menjalani kehidupan. Tidak boleh mencla mencle Iklan Sabdo adalah padanan kata sabda dalam bahasa Indonesia. Artinya kata’ atau berkata’ tapi dipakai untuk seseorang yang dihormati misalnya raja. Pandito artinya pendeta, rohaniwan, ulama. Ratu dalam bahasa Jawa bisa dipakai untuk laki laki maupun perempuan, beda dengan pemakaiannya dalam bahasa Indonesia yang khusus untuk perempuan. Jadi arti harafiahnya kira kira adalah sabda seorang raja pendeta. Apa maksudnya ? Mari kita otak atik. Dalam pertunjukan wayang kulit sang dalang sering memberi keterangan tambahan tentang kalimat tersebut. Kata ki dalang, sabdo pandito ratu itu ibarat tinta hitam yang mengenai kertas putih, tidak boleh berkali kali. Orang menulis dengan tinta hitam di kertas putih itu harus sekali jadi. Kalau kita menulisnya tidak sekali jadi maka akan buruk tulisan di kertas itu. Jadi kata kata seorang pemimpin harus sekali jadi, tidak boleh mencla mencle. Tidak boleh berubah ubah. Tidak boleh misalnya di suatu hari dia omong A lalu lain kali omong B yang bertentangan dengan A. Jadi seorang pemimpin harus mampu menahan diri agar jangan sampai omongannya membingungkan atau bahkan merugikan masyarakat yang dipimpinnya. Kata kata, apalagi keputusan seorang pemimpin memiliki dampak kepada orang yang dipimpinnya. Semakin tinggi kedudukannya maka akan semakin besar dampak dari kata kata dan keputusannya. Dampak pimpinan negeri adikuasa bahkan meliputi seluruh dunia. Oleh karena itu seorang pemimpin harus memikirkan dengan matang setiap kata dan keputusannya. Maka semakin tinggi kedudukannya mestinya harus didampingi oleh penasehat yang kaya pengalaman, kaya ilmu dan sangat bijaksana juga. Di negri Paman Sam, dan di banyak negri, pidato yang dibacakan juga harus disiapkan oleh sejumlah staf ahli, dibahas dulu, dianalisis dulu, agar apa yang keluar sudah matang dan tidak berdampak buruk kepada masyarakat. Keputusan dan kata yang keluar diharapkan membawa dampak positif untuk masyarakat yang dipimpinnya. Terapan dalam parenting Mungkin anda bertanya dalam hati, apa relevansinya dengan topik parenting? Jelas relevan sekali karena orang tua, bapak, adalah pimpinan keluarga. Jadi seorang bapak, dan ibu juga, idealnya juga harus mampu menerapkan prinsip sabdo pandito ratu. Kata kata seorang pimpinan keluarga tidak boleh sembarangan. Harus ada adabnya. Bahkan bercandapun juga ada adabnya. Salah satunya harus tidak mencla mencle agar tidak berdampak buruk. Ini adalah salah satu unsur budaya yang mempengaruhi tingkah laku pribadi dan bahkan masyarakat. Inilah salah satu contoh betapa pentingnya calon pasutri mempertimbangkan unsur budaya untuk membangun keluarganya. Selain dengan ihtiar kita juga seharusnya terus menerus memohon lindungan, petujuk dan bimbingan Allah swt agar bisa menjadi orang tua yang baik. Orang tua yang mampu membimbing anak anaknya menuju keberhasilan dunia dan akherat. Orang tua yang tidak bingung. Orang tua yang memiliki gagasan jelas tentang pendidikan anak anaknya. Ketidakjelasan inilah akar mencla mencle. Ringkasan. Kita mewarisi kebudayaan tak benda yang sangat berharga. Salah satunya peribahasa yang bisa diterapkan dalam pengasuhan anak. Nenek moyang kita menganjurkan agar pemimpin termasuk pemimpin keluarga bersikap konsisten dan tidak mencla mencle dalam berkata dan bertindak. Jadi terapkan sabdo pandito ratu dalam mendidik anak. Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Kredibilitas seorang pemimpin akan dilihat dari ucapannya. Karena ucapan seorang pemimpin adalah sabdo pandito pemimpin yang dipegang adalah omongannya, termasuk konsistensinya dalam memegang teguh satunya kata dengan perbuatan. Untuk itu seorang pemimpin harus pegang komitmen dan setia janji dengan apa yang pernah ia ucapkan, tidak lupa dengan ucapannya sendiri, karena ia adalah sabdo pandito seorang pemimpin akan menjadi panutan, digugu lan ditiru, jadi panutan dan contoh bawahannya, jadi panutan dan contoh rakyatnya. Pemimpin itu tak bedanya seorang guru yang harus mencontohkan keteladanan yang elok sebagai panutan untuk digugu lan ditiru, bukan mengajarkan sebagaimana peribahasa; guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Termasuk seorang pemimpin tidak boleh lempar batu sembunyi tangan, untuk menghindari dari tanggung jawabnya kemudian melempar kesalahan kepada orang lain sebagai tumbal kambing hitam. Dalam hal ini seorang pemimpin harus memberi ketauladanan digugu lan ditiru, sebagaimana ditemui dalam ajaran Ki Hajar Dewantara yaitu ing ngarso sung tulodo ing madyo mangun karso tut wuri handayani. Di muka memberi suri tauladan, di tengah menciptakan motivasi, di depan menumbuhkan semangat kerja. Dalam artian, seorang pemimpin yang harus mampu memberikan dorongan, motivasi dan semangat kepada anak buah atau bawahannya sehingga membawa pada kemajuan dan terciptanya apa yang diharapkan. Karena dari sini pula kadar kualitas kepemimpinan seorang pemimpin dinilai dan dipertaruhkan di mata rakyat.* Artikel ini dicuplik dari buku "Ngaji Deling - Ratu Adil", penulis Alex Palit. Lihat Politik Selengkapnya Oleh Alex Palit Dalam konsep kepemimpinan yang mengacu pada khasanah budaya Jawa bahwa personality sosok pemimpin haruslah mencerminkan pribadi sabdo pandito ratu tak kena wola-wali, dan juga berbudi bawalaksana. Di mana kata sabdo pandito ratu itu diartikan bahwa ucapan pendeta, raja atau pemimpin omongannya tidak boleh mencla-mencle alias tidak bisa dipegang. Sedang kata berbudi bawalaksana itu diartikan bahwa pandito, raja atau pemimpin harus setia janji satunya kata dengan perbuatan. Termasuk seorang pemimpin tidak boleh berkilah lempar batu sembunyi tangan, melempar kesalahan kepada pembantunya atau anak buahnya atau juga kepada orang lain sebagai tumbal kambing hitam. Sebagai orang Jawa pasti mengenal ungkapan ini. Filosofi ungkapan ini tidak hanya berlaku bagi orang Jawa, juga non Jawa, tidak terkecuali juga berlaku bagi seluruh pemimpin di belahan bumi. Makanya siapapun dia bahwa sejatinya seorang pemimpin haruslah berjiwa sabdo pandito ratu tan kena wola-wali, dan berbudi bawalaksana. Karena dari sini kita akan mengetahui sejauhmana kualitas pemimpin tersebut. Dari filosofi ungkapan ini akhirnya kita diajak belajar memilah dan memilih sejatinya seorang pemimpin dan pemimpim sejati. Sudahkah sang pemimpin tersebut personalitasnya mencerminakan sabdo pandito ratu tak kena wola-wali, dan juga berbudi bawalaksana. Dari ungkapan ini pula kita diajak belajar untuk memilah dan memilih agar tidak terperosok lagi pada jurang yang sama yang pernah dialami. Karena kita bukan keledai yang mau dibenturkan pada tembok yang sama. Dari ungkapan ini mengajarkan kepada kita pula pada sebuah ungkapan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Dari pengalaman ini pula kita akan banyak menimbah pelajaran berharga tentang kepemimpinan pemimpin di hari kemarin, hari ini, dan hari esok yang akan datang. Akhirnya di tahun politik 2018 yang akan diwarnai oleh gelaran serentak Pilkada 2018 dan jelang menyongsong Pilpres 2019 akan menjadikan pembelajaran sangat berharga bagi kita rakyat dan bangsa Indonesia untuk menentukan dalam hal memilah dan memilih pemimpin dengan mengacu siapa pun itu pemimpinnya bahwa pemimpin itu sabdo pandito ratu tak kena wola-wali, dan juga berbudi bawalaksana. Semoga! * Alex Palit, citizen jurnalis “Jaringan Pewarta Independen”, kolektor bambu unik dan pendiri Komunitas Pecinta Bambu Unik Nusantara KPBUN Dunia Keris Selamat tiba kerabat perkerisan. Sabdo Pandito Ratu tan keno wola wali, begitulah kalimat ujar buat menjadi pegangan hayati bagi kita, khususnya orang Jawa, yg masih mengakui ke-Jawa-annya. Tidak perlu sungkan buat mengakui, sekarang ini sebagian kita yg mengaku orang Jawa ini tak lebih hanya sekedar numpang lahir & tinggal pada tanah Jawa. Ya, kita seakan tidak mengakui & memahami, apalagi menjunjung tinggi Kejawen atau ke-Jawa-an kita. Sebelum saya lanjutkan goresan pena ini, saya luruskan dahulu yg saya maksud kejawen dalam goresan pena ini, kejawen dalam goresan pena ini ialah pandangan hayati. Terlalu tendensius jikalau wajib menyebutkan waktu ini orang Jawa tidak mempunyai pandangan hayati seperti para pendhulunya yg lebih mengedepankan nilai-nilai luhur & cenderung berhati-hati dalam tumindak. Kalaupun toh terdapat, tentu itu sangat sedikit. Orang Jawa dahulu itu tidak grusa-grusu, dia bisa menempatkan diri pada kawasan serta waktu yg absolut pula senantiasa lembah manah, & andap asor. Baik, kita kembali pada topik goresan pena ini, Sabdo Pandito Ratu dalam hal ini bisa diartikan dalam dua versi yaitu ungkapan itu buat diri sendiri atau secara generik. Uutuk diri sendiri ini bisa berarti Sabdo Pandito Ratu tan keno wola wali, atau arti harfiahnya bahwa kita dilarang mencla-mencle kalau ingin dihormati selayaknya Pandito Ratu. Orang akan dihormati sebab konduite yg tercermin dari kata-pungkasnya, sebab biasanya dari kata kata kita bisa menilai seseorang. Sabdo Pandito Ratu, secara generik Sabdo artinya perkataan sedangkan Pandito artinya ialah orang kudus, Ratu ialah penguasa perkataan penguasa itu menjadi dasar hukum rakyatnya yg wajib dipatuhi. Namun yg menjadi pertarungan ialah sekarang ini yg dianggap Pandito & Ratu ialah orang orang yg sebenarnya tak mempunyai kapasitas sebagai Pandito & Ratu, sebab yg dianggap Pandito tak lain hanya media masa yg tak lagi menjadi suara kebenaran, melainkan penyampai pesan para pencari kekuasaan yg melahirkan Ratu-Ratu picik. Kekisruhan & keadaan negeri yg kacau sekarang ini sebab kita telah kehilangan Sabdo dari Pandito & Ratu yg memang sahih-sahih mempunyai kapasitas sbagaimana mestinya. Seperti yg kita lihat sekarang ini warga bawah telah kehilangan agama terhadap para elit yg ditimbulkan sebab adanya Sabdo dari orang-orang yg dianggap Ratu sang orang-orang yg tak mengerti dikarenakan telah dicekoki sang kata-kata Pandito yg hanya mencari materi. Sementara sekian dulu kisanak. Nuwun.

lirik lagu sabdo pandito ratu